Senin, 15 Juni 2009

SINOPSIS FILM DOKUMENTER “KEPALA SEKOLAHKU PEMULUNG”

Film ini menceritakan perjuangan Mahmud (49 tahun) seorang kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah (Mts / setingkat SMP) di kota metropolis Jakarta yang menyambi sebagai pemulung karena gajinya minim, bahkan dibawah Upah Minimum Propinsi. Walaupun sekolah yang dipimpinnya berhasil mendapat predikat sekolah dengan Ujian Nasional (UN) terbaik di tahun ajaran 2006/2007 lalu, tapi fasilitas di sekolah itu kurang baik, seperti laboratorium, perpustakaan, kelas, dll.

Profesi sambilan Mahmud sebagai pemulung memicu kontroversi baik diantara rekan guru, masyarakat sekitar bahkan siswa/i nya sendiri. Walaupun profesi sambilannya dianggap tidak pantas oleh sebagian mayarakat tapi dia meyakini apa yang dikerjakannya halal dan tidak mengganggu profesi utamanya.
Mahmud juga mempunyai 3 orang anak, dan istrinya saat ini terkena sakit kanker otak, suatu penyakit yang tidak murah untuk diobati.

Selain itu, di film ini juga digambarkan keadaan lingkungan di sekitar Bambu Larangan-Cengkareng, Jakarta Barat,tempat Mahmud tinggal dan memulung, dimana warga sekitar menggunakan kali untuk mencuci baju, buang air,dll. Sangat ironis melihat keadaan ini masih ada di Ibu Kota DKI Jakarta, yang notabene memiliki APBD terbesar di negeri ini, dan sudah menganggarkan 20% dana APBD untuk pendidikan.

Lantas, bagaimana Mahmud menghadapi kontroversi “guru tak pantas memulung”, dan bagaimana pula perjuangannya dalam menghidupi anak-anaknya dan istrinya?
















Video Dokumenter: Jogja Berhati Mural

cover-jogja-berhati-muralSebagian besar footage dan foto dalam video ini menggunakan materi dari dokumentasi IVAA yang diambil sepanjang 1999 hingga 2006. Materi dokumentasi ini kemudian diselaraskan dengan penelitian yang dilakukan sebelum produksi. Fokus penelitian adalah untuk menilik ulang perkembangan seni rupa publik (khususnya mural) di Yogyakarta, baik dari sudut pandang pelaku maupun publik umum yang hidup diantara bentuk-bentuk ekspresi tersebut.

Jenis Terbitan: Video Dokumenter
Hal/Durasi: 30 menit 26 detik
Penulis/Sutradara: Yuli Andari Merdikaningtyas, Dwi Rahmanto, Nunuk Ambarwati
Editor: Anang Saptoto
Tahun: 2007
ISBN: -

video komunitas dan video dokumenter

Video Komunitas dan Video Dokumenter


latihanvideodipilingBeragam istilah dalam dunia pembuatan video yang muncul dalam beberapa tahun terakhir memang bisa membingungkan. Sampai-sampai, menghafalkan berbagai istilah itu jauh lebih sulit daripada membuat video itu sendiri. Para pembuat video profesional dan para intelektual menjadi sibuk merumuskan definisi-definisi. Dan, dalam keriuhan itu, ada yang menganggap bahwa video komunitas adalah bagian dari video dokumenter. Padahal, ini adalah dua jenis yang berbeda, meskipun memang --dalam banyak hal, banyak sekali persamaannya.

Perbedaan yang paling jelas dan utama adalah tujuan pembuatannya. Pada video dokumenter --sama seperti video atau film umumnya-- sangat berorientasi pada hasil video itu sendiri sebagai suatu karya. Video komunitas ustru lebih mementingkan prosesnya. Perbedaan lain, video dokumenter --dan video umumnya-- selalu mengharuskan ada naskah (script) yang ditulis berdasarkan kaidah-kaidah baku profesional. Pada video komunitas, ketentuan atau persyaratan itu tidak selalu harus ada. Warga masyarakat setempat yang membuat video komunitas lebih berpedoman pada gagasan umum yang mereka sepakati bersama-sama. Memang, kadang-kadang secara bersama sama mereka menyusun juga ‘naskah’, tetapi biasanya juga hanya dalam bentuk ‘naskah garis-besar’ (outline script) saja, atau ‘papan cerita’ (story board) sederhana saja, itupun menurut cara dan gaya mereka sendiri, sangat sering tidak mengikuti --bahkan mereka umumnya tidak pernah tahu (untuk apa?)-- kaidah-kaidah baku penulisan naskah video atau film seperti yang dikenal di kalangan para profesional.

Dalam hal biaya produksi, video komunitas tidak memerlukan biaya mahal seperti pada video dokumenter, apalagi film seni, atau film komersial. Seperti nampak pada contoh kasus di Kepulauan Kei dan di Bali, selama 15 dan 8 tahun terus-menerus, mereka tetap bertahan dan bahkan mampu membiayai sendiri produksi mereka. Tetapi, harus diakui, pengalaman di dua tempat itu memperlihatkan ada kelemahan yang juga umum ditemukan di banyak organisasi masyarakat seperti mereka, yakni kelalaian menghitung biaya-biaya penyusutan (depresiasi) dan perawatan peralatan. Apabila peralatan rusak, berhentilah mereka berproduksi. Perlu waktu panjang untuk mampu membeli lagi yang baru.

Perbedaan lain yang lebih mendasar, video dokumenter akan selesai ketika video selesai, sedangkan video komunitas justru baru mulai ketika produknya selesai dibuat. Produk tersebut dipergunakan sebagai media untuk berbagai tujuan. Oleh sebab itu, biasanya memerlukan waktu lebih lama, karena akan berhenti jika sasaran sudah dicapai. Bahkan --karena masalah dan kegiatan komunitas tidak pernah ada habisnya-- video komunitas bahkan mungkin pula ‘tak pernah selesai’.

Hal yang sering membuat bingung ialah ada video komunitas yang dibuat oleh para profesional sebagai bagian dari suatu program atau proyek menggunakan pendekatan partisipatif. Mereka kadang mengakui (claiming) telah membuat video komunitas hanya karena prosesnya pembuatannya melibatkan juga warga masyarakat setempat. Dalam hal inilah mungkin memang lebih tepat jika mereka menyatakan itu sebagai ‘video partisipatif’ (participatory video). Tetapi, sebagai ‘video komunitas’?

Nah, daripada bergaduh terus tentang istilah, nampaknya lebih baik memang melakukannya saja langsung. Dalam praktik, warga masyarakat terkadang dan sering malah menemukan istilahnya sendiri. Apapun, istilah itu sesungguhnya yang paling tepat untuk menamakan apa yang mereka kerjakan. Bukankah ‘kekuasaan untuk penamaan dan pemaknaan’ adalah justru salah satu isu paling mendasar dari upaya penciptaan suatu sistem komunikasi atau media alternatif yang, antara lain, melahirkan gagasan dan praktik video komunitas?

Namun, sebagai rangka dasar, untuk melihat perbedaan-perbedaan penting lainnya antara video komunitas dengan video dokumenter, mungkin tabel berikut akan sedikit membantu.*

-

Video Dokumenter

Video Komunitas

Siapa menentukan isi?

Pembuat Dokumenter

Warga masyarakat setempat

Siapa menulis naskah?

Pembuat Dokumenter

Sering tidak memerlukan naskah, atau warga setempat bersama-sama menyusunnya

Siapa mengambil gambar?

Pembuat Dokumenter atau pengarah kamera profesional

Warga setempat atau bersama fasilitator (sebagai suatu tim pengarah kolektif)

Siapa penonton utama?

Tak dapat ditentukan, bahkan 'anonim' (tak dikenal oleh pembuat).

Warga setempat, tidak anonim.

Siapa yang menyebarkan?

Pembuat dokumenter kerjasama dengan pihak lain.

Warga setempat kadang dibantu oleh fasilitator.

Siapa yang membiayai?

Pembuat dokumenter atau penyandang dana tertentu.

Masyarakat

Apakah umpan balik diharapkan?

Tidak terlalu diperlukan, bair penonton yang berpikir tentang itu.

Wajib, video itu hanya alat untuk memulai tindakan-tindakan nyata.

Proses atau produk?

Lebih mementingkan produk.

Lebih mementingkan proses.

Apa paradigma dibelakangnya?

Monoisme, obsesi, obyektivitas, subyektif.

Pluralisme, subyektif.